Surat
botol dan balon
biru
“Adek
bangun dong. Kapan sih kamu itu gak nyusahin kakak? Kamu itu udah gedhe. Gak
pernah bisa ngatur waktu kamu itu.” Ocehan kakak itu hampir tiap pagi ku
dengar. Yapp ! dari dulu sampai udah umur 15 tahun aku masih belum bisa bangun
pagi. Manjaaa banget, 15 tahun kayak masih 10 tahun.
Sebelumnya
kenalin, namaku Natasha Prisca. Aku anak ketiga dari tiga bersaudara. Di
Jakarta aku hanya tinggal sama kedua kakakku. Kakak pertamaku namanya Nino
Pratama, nahh kakakku yang kedua namanya Nevada Putri. Kak Nino sekarang kerja
di salah satu perusahaan swasta di Jakarta. Kalo kak Neva masih kuliah di
Universitas Indonesia jurusan seni. Seni udah mendarah daging di keluargaku,
terutama dari ayah. Orang tuaku lagi stay di Beijing, jadi aku dirawat sama
kakak-kakakku.
“masih
sempat ya kamu itu ngelamun, lihat tuh udah jam berapa!” celomeh kakak sejenak membuyarkan
lamunanku. Aku sontak terkejut melihat jam sudah pukul 06.40 sedangkan jarak
dari rumah ke sekolah bisa memakan waktu 30 menit. Aku bergegas ke kamar mandi
lalu berlari ke meja makan. Aku mengambil sepotong roti yang sudah disiapkan
kakak lalu melesat masuk ke mobil.
“Cepat pak,
telat nih.” Pintaku pada pak Ahmad, supirku.
“Baik,
Non.”
Akhirnya
sampai juga aku di sekolah, namun aku telat memasuki kelas.
“Astaga
Tasha, bisa gak sih tidak telat satu hari saja. Gak malu apa dilihat
teman-teman sama kakak kelas kamu. Sama sekali tidak bisa disiplin.”
“Maaf, Bu.
Tadi saya bangun agak siang. Lagian rumah saya kan jauh dari sini, Bu.” Semoga
alasanku bisa diterima.
“Alasan aja
kamu itu. Masak telat berkali-kali. Ya sudah, sana duduk.”
Huft, hampir
saja aku mati berdiri. Aku sangat malu sama teman-teman. Baru 2 bulan sekolah di SMA, udah telat terus. Pengen rasanya mengubah
kebiasaanku ini. Tapi gimana caranya? Fikirku dalam hati.
Setelah
pelajaran matematika selesai, aku langsung melesat ke kantin. Perutku sudah tak
tahan pengen segera diisi.
“Hey!!
Sendiri aja nih. Boleh gabung?” tanya Marcel mengagetkanku.
“oh tentu.
Silahkan.” Jawabku datar.
Tak terasa
mie kuahku sudah habis. Tapi perut ini masih minta diisi. Aku segera beranjak
dari tempat dudukku dan membeli sepotong roti.
“hey mau
kemana? Yah ditinggal dehh.” Keluh Marcel ketika kutinggal pergi tanpa pamit.
“sorry,
buru-buru nih. See you!” aku melambaikan tanganku hingga menghilang dikeramaian
teman-teman.
***
“Kak, aku
kangen sama mama. Biasanya kalo weekend gini aku pergi ke perkerbunan papa
terus nginap di villa mama.” Tuturku sambil mengingat kejadian 2 tahun lalu.
“udah lah,
dek. Kamu itu udah gedhe. Biasain mandiri dong.” Jawab kakak yang sama sekali
tidak peduli padaku.
“tapi udah
2 tahun aku nggak ketemu mama, masak kakak nggak kangen sama mama sendiri?”
tanyaku.
“ya kangen
lah, anak mana sih yang nggak kangen kalo ditinggal 2 tahun. Tapi, kita harus
bisa maklum. Papa sama mama kan lagi kerja.” Nasehat kakak emang bener sihh.
“Kak, ke
mall yuk. Pengen belanja nih. Boring di rumah terus.”
“Ayok.
Kakak juga lagi bete.”
“Hayoo,
lagi ada masalah ya sama kak Rio?” godaku.
“Gitu dehh,
udah lah ayo pergi. Nyetir sendiri aja yah. Kasian pak Ahmad kalo lama-lama.”
“OK” jawabku
singkat.
Aku dan kakak
menghabiskan waktu di luar rumah. Mulai dari nonton film, mampir ke magnum
cafe, ke restoran tante Anna, nah sampek nih di tempat tujuan, Toko baju J maklum lahh namanya aja cewek. Aku sama kakak
banyakkkkk banget beli baju. Mumpung baru dikirimin uang sama mama, hehe :D
“dek pulang
yuk. Udah malem nih, ntar kak Nino nyari’in.” Ajak kak Neva.
“ayok deh,
lagian aku udah selesai belanjanya.” Sahutku.
***
Brakkk !!
di jalan kakak menabrak seorang cowok. Tubuh cowok itu terkulai lemas tak
berdaya, kepalanya mengeluarkan banyak darah. Aku segera mencari pertolongan
lalu membawanya ke rumah sakit terdekat.
Ketika
dirumah sakit ......
“ada apa dek? Kamu menabrak
siapa?” tanya kak Nino yang sama sekali tak mendapat jawaban dari kak Neva.
“kak Neva
menabrak seorang laki-laki kak. Sekarang dia lagi ditanganin sama dokter di
ruang ICU.” Jawabku.
“Masya
Allah. Ya sudah nanti biayanya biar kakak yang nanggung. Sana antar kakakmu
pulang kelihatannya dia shock. Nanti kamu kesini lagi ya.” Pinta kak Nino.
“iya kak.”
Jawaku singkat.
Setelah
mengantar kak Neva pulang, aku bergegas kembali ke rumah sakit lagi. Kali ini
aku di antar pak Ahmad. Aku takut kejadiannya terulang kembali. Di rumah sakit
aku langsung menuju ruang ICU. Dan disana sudah ada kak Nino dan dokter yang
merawat laki-laki yang ditabrak kak Neva tadi.
“Ada apa
kak? Apa dia baik-baik saja?” tanyaku sambil memperhatikan tubuh laki-laki itu.
“dia
kekurangan banyak darah. Tapi stock darah B+ disini lagi kosong. Darah kakak
kan O sama kayak darah mama. Oh ya, darahmu kan B+, kamu mau nyumbangin darah
kamu buat dia? Kasihan dia.”
“emmm, aku
takut jarum kak, gimana yaa ? ya dehh aku mau.”
Aku dibawa
ke ruang tranfusi darah. Aku harus bisa melawan rasa takutku untuk
menyelamatkan nyawa cowok itu. Ku pejamkan mataku rapat-rapat. Jarum itu
menembus dagingku. Beberapa lama kemudian aku sudah boleh keluar. Aku segera
menghampiri kak Nino.
“gimana?
Sakit nggak?” tanya kak Nino.
“tidak kak,
rasanya kayak digigit semut.” Jawabku.
“ya sudah
tolong jagain cowok itu dulu ya. Kakak mau nebus obat dulu.”
Aku duduk
di tepi tempat tidur cowok itu dan kupandangi wajahnya , imut :D “ahh,
apa-apa’an aku ini ? ><” kubuyarkan lamunanku seraya bangkit untuk keluar
ruangan. Namun ....
“tunggu
...”
“ehh kamu
sudah bangun? Sebentar ya aku panggilin dokter.” Jawabku gugup.
Aku segera
berlari mencari dokter yang merawat cowok itu. Namun aku tak berhasil
menemukannya. Lalu aku bertanya kepada suster. Aku dan suster segera berlari ke
kamar 21, kamar cowok itu.
“gimana sus
? apa dia baik-baik saja?” tanyaku.
“oh tidak.
Dia sudah membaik kok.” Jawab suster.
Ohh
Tuhan..... sekarang hatiku sudah lega .
“ohh ya ,
nama kamu siapa? Maaf tadi kakakku tidak sengaja menabrakmu. Lagian ngapain
kamu malam-malam berada ditengah jalan seperti itu? Kamu ingin mati ya? Untung
yang nabrak kamu mau tanggung jawab, kalo nggak ? kamu juga kan yang susah.”
Celomehku pada cowok itu.
“maaf Sha,
aku khilaf. Namaku Rama. Aku bener-bener ingin mengakhiri hidupku. Aku sudah
tidak tahan. Rasa-rasanya aku sudah muak berada di dunia ini.” Jawabnya.
“masak
boleh gitu itu, dosa kamuuu !! ehh bentar , kamu tau nama aku ? kok bisa ?
emang sebelumnya kita pernah bertemu ?” tanyaku yang menurutku terlalu panjang
untuk orang yang lagi sakit seperti Rama.
“Aku orang
yang selama ini mengirim surat botol buat kamu. Dan kamu membalasnya dengan
balon biru. Ingat ?” tuturnya yang spontan membuatku terkejut.
“what ???
surat botol ?? balon biru ?? itukan sudah satu tahun lalu. Tapi kenapa kamu tau
kalau aku ini Tasha ?” tanyaku heran.
“rumahku
kan di sebelah rumah kamu Tasha sayaanggg.” Jawabnya sambil meraih tanganku.
Tiba-tiba
suasana menjadi hening. Entah apa ini ? aku merasa jantungku berdegup kencang
ketika Rama memegang tanganku. Aku sama sekali belum pernah merasakan hal
seperti ini. Tatapan mata Rama menunjukkan tanda dawai-dawai asmara. Aku
terdiam, begitu pun Rama. Hingga Rama memulai pembicaraan kembali.
“Sha,
sebenernya dari dulu aku udah merhati’in kamu. Dan aku mencoba mengirim surat
botol buat kamu, dan kamu membalasnya sama balon biru. Itu semua aku buat biar
aku bisa lebih dekat sama kamu. Tapi kamu nggak tau itu. Makanya aku ingin
mengakhiri hidupku ketika mama mendapat telpon dari mamamu di Beijing. Dia
bilang kalau papamu sudah menemukan calon untukmu. Orang Beijing sana. Aku
terkejut. Aku nggak mau kehilangan kamu. Tapi nasib mengatakan lain sampai aku
tertabrak oleh mobil kakakmu. Aku bersyukur atas kejadian ini. Aku ingin kamu
jadi pelabuhan terakhir aku.” Tuturnya padaku.
Aku
tertunduk. Aku memikirkan perkataan Rama tadi. Jodoh untukku? mengapa mama dan
papa tidak memberitahukan ini padaku ? aku nggak mau dijodohin. Aku cintanya
sama Mr. Bottleku dan sekarang dia sudah ada didepan mataku. Tak terasa air mataku pun jatuh. Spontan aku
langsung memeluk Rama.
“aku juga
cinta sama kamu Ma. Aku nggak mau kehilangan kamu. Nanti aku akan coba ngomong
sama papa. Kamu cepet sembuh yaa. Aku mau kok jadi pelabuhan terakhir kamu.”
“Sha,
setelah aku pikir-pikir kenapa Tuhan nyiptain kamu. Itu ternyata karena Tuhan
ingin menciptakan malaikat pelindung buat nemenin hari-hari aku.” Tutur Rama.
“ idihhh,
gombalnya mulai dahh.” Jawabku sambil mencubit pipinya.
***
Kini semua
berjalan seperti yang aku harapkan. Mama sama papa udah balik ke Indonesia. Dan
kak Nino udah nemuin pujaan hatinya. Kak Neva udah nggak uring-uringan lagi
sama kak Rio. Dan aku, aku udah nemuin pelabuhan terakhir aku dari sebuah surat
botol dan balon biru. Ternyata banyak hal yang tak terduga di dunia ini.
Cintaku ini mengingatkanku pada sebuah lagu, Pacar Lima Langkah :D ternyata
pacar yang selama ini aku cari adalah tetanggaku sendiri :D
***
Pesanku
untuk teman-teman semua, terutama yang jomblo. Hidup ini terlalu indah untuk
dibuat galau-galauan. Jodoh itu sudah ada yang mengaturnya tinggal bagaimana
cara kita buat menerimanya. Hidup tanpa cinta itu seperti masakan tanpa garam,
rasanya akan hambar J jangan
malu kalo jatuh cinta. Jatuh cinta itu indah , kawan J tapi kalau sudah waktunya yaa J
Tidak ada komentar:
Posting Komentar